Tuesday, September 6

Sekilas Kisah Kiyai Abbas Buntet Waktu Perang 10 November 1945 di Surabaya)

"SAYA DISURUH MEMBAWA BAKIAK KIYAI ABBAS" (Pengakuan Abdul Wachid Salah Satu Pengawal Kiyai Abbas Buntet Waktu Perang 10 November 1945 di Surabaya)
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka setelah penjajah Jepang tidak berdaya. Pada tanggal 29 September 1945 tentara sekutu (Inggris) yang bertugas sebagai Polisi Keamanan mendarat di berbagai kota besar di Jawa dan Sumatra, di antaranya adalah di kota Surabaya.




Mereka bermaksud untuk melucuti per-senjataan tentara Jepang. Ternyata, Belanda mem-bonceng tentara Inggris dan melakukan tindakan-tindakan anarkis. Tentu rakyat Indonesia yang telah merdeka tidak ingin kedaulatannya dikoyak-koyak kembali oleh Belanda. Maka meletuslah perang dahsyat yang terkenal dengan “Perang 10 November”. Namun rakyat Surabaya tidak dapat berbuat banyak, bahkan telah mundur ke luar kota Surabaya. Selain itu, mereka juga menunggu kiyai dari Cirebon. Karena menurut Hadhratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari perlawanan akan dimulai nanti kalau sudah datang ulama dari Cirebon. Dan ulama yang dimaksud adalah KH. Abbas.

Bagaimana perjalan Kiyai Abbas ke Surabaya? Berikut ini penuturan Abdul Wachid, satu-satunya pengawal Kiyai Abbas yang memberikan kesaksian secara tertulis melalui H. Samsu pada tahun 1998. Pada hari itu, kalau tidak salah, tanggal 6 November 1945 saya dengan tiga orang yaitu Usman, Abdullah dan Sya'rani mendapat tugas dari Detasemen Hizbullah Resimen XII/SGD untuk mengawal Kiyai Abbas ke front Surabaya.

Pada jam 06.30 rombongan kami, dengan diiringi pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat meninggalkanku Markas Detasemen menuju stasiun Prujakan Cirebon. Rombongan kami, selain tiga pengawal serta Kiyai Abbas, juga ikut Kiyai H. Achmad Tamin dari Losari sebagai pendamping Kiyai Abbas. Selanjutnya kami naik Kereta Api Express. Pada waktu itu, Kiyai Abbas mengenakan jas buka abu-abu, kain sarung plekat bersorban dan beralas kaki trumpah (sandal japit kulit). Kiyai Abbas menyerahkan sebuah kantong pada saya. Setelah saya raba-raba, ternyata isinya sandal bakiyak. Saya sempat heran bahkan tertawa sendiri, untuk apa sandal bakiyak ini? Bukankah Kiyai sudah memakai trumpah? Atau senjata perang? Masa senjata kok bakiyak?

Pada sekitar jam 17.00, kereta api yang kami tumpangi telah masuk di stasiun Rembang Jawa Tengah. Ternyata sudah banyak orang yang menunggu. Lalu kami diantar ke Pondok Pesantren Kiyai Bisyri Musthofa di Rembang.

Pada malam harinya, ba’da shalat isya, para ulama yang jumlahnya diperkira-kan lebih dari 15 orang, mengadakan musyawarah untuk menentukan komando / pemimpin pertempuran di Surabaya. Hasil musyawarah memutus-kan bahwa komado pertempuran di-percayakan kepada Kiyai Abbas.

Ba’da shalat subuh, pondok pesantren Rembang sudah ramai. Para santri sudah siap berangkat ke Surabaya, dan banyak pula yang berseragam Hizbullah. Di halam masjid sudah ada dua mobil sedan kuna yang berkapasitas empat orang penumpang. Bapak Kiyai Abbas memanggil saya dan rekan-rekan pengawal dari Cirebon. Beliau meminta bingkisan (bakiyak) yang dititipkannya pada saya. Beliau juga menyuruh kepada kami, pengawal dari Cirebon, untuk tidak ke mana-mana sampai beliau kembali dari Surabaya.

Setelah itu, Kiyai Abbas naik salah satu mobil dengan Kiyai Bisyri di jok belakang sementara H. Achmad Tamin duduk di depan dengan sopir. Sedang sedan yang satunya lagi berpenumpang empat orang kiyai yang saya sendiri tidak tahu namanya. Dengan diiringi pekik takbir “ALLAHU AKBAR!!!”, dan pekik MERDEKA !!! yang saling bersahutan, rombongan kiyai itu perlahan-lahan bergerak meninggalkan pondok pesantren Rembang.

Sudah hampir sepekan kami berada di Pondok pesantren Rembang. Tiada kabar berita apa-apa. Ini membuat kami gelisah. Ingin rasanya menyusul ke Surabaya kalau saja tidak ada pesan dari Kiyai untuk tidak boleh ke mana-mana.

Baru pada tanggal 13 November 1945, ada beberapa laskar Hizbullah (santri pokdok pesantren Rembang) yang datang. Kedatangannya disambut oleh santri-santri termasuk kami dan langsung dibrondong pertanyaan-pertanyaan tentang situasi peperangan Kota Surabaya.

Menurut cerita santri Rembang yang baru datang tersebut, begitu rombongan para kiyai datang, langsung disambut dengan gemuruh takbir dan pekik merdeka. Lalu para kiyai tersebut masuk ke masjid dan melakukan shalat sunnah. kemudian Kiyai dari Cirebon (Kiyai Abbas-red) memerintahkan kepada pendamping beliau (Kiyai H. Achmad Tamin-red) untuk berdoa di tepi kolam masjid. Dan kepada Kiyai Bisyri dari Rembang beliau (Kiyai Abbas-red) memohon agar memerintahkan para laskar / pemuda-pemuda yang akan berjuang untuk mengambil air wudhu dan meminum air yang telah diberi doa. Segera saja para laskar / pemuda-pemuda itu berebutan, bahkan ada yang merasa kurang dengan hanya berwudlu dan menerjunkan diri masuk ke dalam kolam.

Kemudian, bagaikan lebah keluar dari sarangnya, pemuda-pemuda dari segala lapisan Badan Perjuangan AREK-AREK SUROBOYO menyerbu Belanda dengan diringi takbir dan pekik merdeka yang bergemuruh di seluruh penjuru kota Surabaya yang didisambut dengan rentetan tembakan gencar dari serdadu Belanda. Korban dari kedua belah pihak pun tak terelakkan berjatuhan, terutama dari pihak kita yang hanya bersenjata bambu runcing, pentungan atau golok seadanya yang disongsong dengan semburan peluru dari berbagai senjata otomatis modern. Sungguh tragis dan mengerikan.

Keesokan harinya, lanjut cerita santri Rembang, pihak musuhpun datang lagi berbondong-bondong berupa kompi tang-tang / mobil baja dan truk-truk menyerang kubu-kubu pertahanan tentara / laskar kita yang didiringi oleh dentuman kanon dan mortir serta rentetan tembakan tembakan 12,7 dari pesawat udara yang cukup banyak jumlahnya sehingga tentara dan laskar kita banyak yang gugur dan terpaksa mundur di pinggir kota Surabaya. Menjelang malam hari tiba, pertempuran baru agak mereda. Hanya beberapa tembakan kecil saja yang masih terdengar di sana sini.

Kemudian kami diperintah pulang oleh Pak Kiyai (Kiyai Bisyri-red) untuk menyampaikan berita keadaan di front Surabaya kepada keluarga dan warga Pondok Pesantren bahwa pak kiyai dan para alim ulama lainnya dalam keadaan selamat sehat wal afiat, dan dianjurkan kepada semua warga pondok dan masyarakat Rembang untuk berdoa memohon kepada Allah SWT atas perlindungan, keselamatan dan kemenangan bagi para pejuang kita yang dalam pertempuran melawan dan mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

Tiga hari kemudian, menjelang pagi, Kiyai Abbas dengan pendampingnya Kiyai H. Achmad Tamin dan Kiyai Bisyri Rembang serta beberapa kiyai lainnya datang. Kami tidak banyak memperoleh informasi dari beliau-beliau tentang kejadian Surabaya. Setelah subuh, kami para pengawal dari Cirebon diperintahkan berkemas-kemas untuk pulang kembali ke Cirebon.

Dengan menumpang Kereta Api Express jam 06.00, kami bertolak meninggalkan Rembang dan tiba di Cirebon dengan selamat pada jam 17.30. sepanjang perjalanan dari Rembang ke Cirebon, tidak banyak yang kami bicarakan, karena Kiyai Abbas dalam kelelahan dan kantuk yang amat sangat karena selama di Surabaya beliau kurang istirahat dan kurang tidur.

Subhanallah...... Begitulah perjuangan para pendahulu kita mempertahankan kedaulatan NKRI, lalu apa yg sudah kita lakukan terhadap kemerdekaan yg sudah mereka persembahkan buat kita semua??

Semoga bermanfa'at dan menjadi bahan renungan buat kita semua. Sumber: Habib Shofwan Alwie Husein


0 komentar

Post a Comment