Friday, October 14

Melestarikan Tradisi Syawalan

Oleh: KH. Achmad Chalwani Nawawi

بسم الله الرمن الرحيم

NABI Muhammad SAW bersabda:
"Barang Siapa Iman kepada Allah SWT dan Hari kiamat maka bersilaturrahmi-lah!" Sahabat Anas ra juga meriwayatkan bahwa Rasulallah SAW bersabda:
"Barang siapa menghendaki diluaskan rezeki dan diperpanjang umurnya maka bersilaturahmi-lah!"

juga dari Aisyah ra, Beliau berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Secepat-cepatnya pahala perbuatan baik adalah berbuat kebajikan dan menjalin silaturahmi dan Secepat-cepatnya siksa perbuatan jelek adalah berbuat lalim dan memutuskan tali silaturahmi".


Dalam KITAB Risalatush Shiyam karangan Ahmad Abdul Khamid dikemukakan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri menyarankan agar jangan terlalu sering berkunjung (silaturrahmi), dengan tujuan agar rasa rindunya semakin membuncah ingin segera bertemu sehingga perasaan sayangnya akan bertambah kuat. Beliau bersabda "zur ghibban tazdad hubban" yang artinya berkunjunglah dalam waktu berjarak maka rasa sayangmu kian bertambah.

Adapun Jarak waktunya, jika memungkinkan adalah satu minggu sekali, yaitu bertepatan dengan Hari jum'at, Kalau tidak memungkinkan maka dilakukan setiap satu bulan sekali, kalau tidak memungkinkan juga, minimal minimal dilaksanakan dalam satu tahun sekali pada waktu hari raya Idul Fitri atau Syawalan.

Syawalan adalah kegiatan silaturrahmi yang memiliki arti menyambung tali kasih sayang antara sesama manusia yang renggang.

Nama Syawalan diambil dari nama salah satu bulan dalam kalender Hijriyah, yaitu bulan syawal di mana kegiatan sila-turrahmi diadakan secara serentak di seluruh pelosok Indonesia yang dalam bahasa Arabnya berasal dari kata syaala-yasyuulu-syawalan yang memiliki arti bertambah. Diharapkan dengan adanya kegiatan syawalan ini amal kebaikan, ketaatan, dan keimanan akan senantiasa bertambah menjadi lebih berkualitas.

Adapun kata silaturahmi berasal dari kata rahim. Kata rahmat, rahman, arham, dan sebagainya mempunyai akar kata yang sama, yaitu rahim. Rahim ibu adalah suatu tempat yang kuat dan penuh dengan kasih sayang. Menyambung silaturahim berarti menyambung kasih sayang antara sesama manusia dengan tujuan untuk menguatkan tali persaudaraan antar sesama Umat Islam "ukhuwah Islamiyah".

Peletak pondasi tradisi syawalan ini tidak lain adalah Walisongo, karena keikhlasannya sehingga bertahun-tahun bahkan berabad-abad lamanya tradisi ini masih tetap lestari. Semua kalangan akan berusaha menyambut syawalan dengan hati yang gembira, menyiapkan berbagai macam hidangan dan sandang semampunya, mulai dari kalangan orang kaya sampai kalangan orang miskin.

Sampai-sampai kegiatan syawalan masuk dalam agenda besar pemerintah Indonesia dengan memfasilitasi kegiatan syawalan ini. Mulai dari fasilitas mudik untuk para pelancong sampai anggaran untuk kegiatan syawalan.

Kegiatan syawalan juga memiliki banyak hikmah, tidak saja umat Islam yang merasakannya, non-muslim pun larut dalam fenomena syawalan. Selain mempererat tali persatuan umat Islam (ukhuwah Islamiyah), persatuan umat manusia pun (ukhuwah Basyariyah) terjalin dengan harmonis.

Semua kalangan dapat merasakan hikmahnya, mulai dari pedagang, sopir, pengelola tempat wiaata, orang kaya sampai orang miskin. Ini menandakan ikhlasnya Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam di Negeri Seribu Pulau ini. Dan sampai saat ini belum ada seorang ulama yang dapat menandingi kehebatan Walisongo.

Karena itu, mari kita sambut syawalan kali ini dengan hati yang bersih mengharap ridla dan ampunan Allah SWT. Sambil melestarikan tinggalan Walisongo.

Segenap admin Warkop Makromlah mengucapkan Selamat Idul Fitri 1347 H., mohon maaf lahir bathin, Taqabbalallahu min na wa mingkum, minak Aidin wal faizin, Aamiin wa antum bikhairin. Aamiin


0 komentar

Post a Comment